11.5.09

Bahasa Daerah Suku Dani Lembah Baliem

Bahasa Daerah Suku Dani yang mendiami Daerah Lembah Baliem menggunakan Bahasa-bahasa yang masuk dalam bahasa Papua dari filum Trans-New Guinea. Bahasa Daerah yang digunakanpun mempunyai perbedaan dialog dan pengucapan antar satu wilayah dengan wilayah Daerah lainnya walaupun masih berada dalam jangkauan jarak tempuh yang boleh dikatakan masih dekat.

Sketsa Peta Penyebaran Bahasa Dani di Daerah Lembah Baliem dan sekitarnya

Secara garis basar Bahasa dani dikenal dalam tiga bagian besar bahasa yaitu, bahasa dani lembah (Daerah sekitar kota Wamena/Kab.Jayawijaya), Bahasa Dani Barat (Daerah Bag Barat kota Wamena (Kab.Lany Jaya, Kab.Puncak Jaya, dan Kab Tolikara) serta Bahasa Dani Timur /Bahasa Yali (Kab Yahokimo dan Kab Yalimo).

Masyarakat Lokal di Daerah Lembah Baliem sendiri sebagian besar sudah dapat menggunakan bahasa Indonesia dgn dialek Wamena/Papua.

Beberapa Kosa Kata Bahasa sehari-hari Suku Dani yang mendiami Daerah Lembah Baliem Wamena

Ap= Pangilan buat Pria Dewasa

Dua = Pere

Ealak=Kecil

Eme =Sini

Empat = Perenen pere

Etai = Nyayian

He= Ibu sapaan buat wanita dewasa

Helekir=Batu

Hemulugar=Sedikit

Hipere=Ubi

Honai = Rumah Adat

Huna= Udang

Hunila= Dapur

I=Air

Isoak=alat minum yg terbuat dari Labu

Kog= Besar

Lani=Jalan

Lauk = Selamat (buat kaum Wanita)

Lima = Sikirak

Moh=Matahari/Panas matahari

Nait=Malas

Naosa =Mama

Nayak = Selamat (buat Kaum Lelaki)

Neruak = Sapaan salam buat Saudara Perempuan

Nopa = Kakek

Nopase =Bapa

0=Kayu

Pikon=Alat musik

Sabokogo = Semua

Satu = Opakiat

Sue =Barung

Tiga = Henagan

Wam= Babi

Yak= Pangilan buat Pria remaja/pemuda

Yeke= Anjing

Yekerek =Panggilan buat anak lelaki

(Created By : Vincent Kosay'99* April 2011)

2 komentar:

Balliem Valley Wamena City mengatakan...

hehehe..itulah seharusnya bahasa daerah masuk dalam muatan lokal biar tidak punah bahasa daerah di wamena :) coba ada perhatian dari pemerintahkah? masa di Jawa bisa baru sampe sekolah2 SD smp ada Bhs daerahnya why? Not untuk Papua?

Anonim mengatakan...

waa.......hano motok bila perlu bisa masukan dalam kurikulum khusus di Wamena Supaya siswa2 bisa belajar sihingga bahasa ibu kita tdk hilang di kemudian hari